Sabtu, 16 Juni 2012

PKLH Taman Nasional Sembilang


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
            Ekologi merupakan salah satu komponen dalam sistem pengelolaan lingkungan hidup bersama dengan komponen lainnya untuk mendapatkan keputusan yang seimbang. Di alam terdapat penopang kehidupan kita. Rusaknya proses ekologi tersebut akan membahayakan kehidupan di bumi kita baik di masa kini maupun di masa yang akan datang. Pembangunan dipengaruhi oleh lingkungan. interaksi antara lingkungan dan pembangunan membentuk suatu sistem ekologi.
            Pembangunan bertujuan untuk meningkatkann mutu hidup dan kesejahteraan rakyat. Dalam usaha memperbaiki  mutu hidup, kemampuan lingkungan mendukung lingkungan pada tingkat yang lebih tinggi harus dijaga. Sebab, jika terjadi kerusakan, bukannya perbaikan mutu hidup yang dicapai, melainkan justru kemerosotan. Bahkan ekosistem tempat kita hidup akan mengalami kerusakan sehingga menimbulkan masalah di kemudian hari. Pembangunan yang demikian bersifat tidak berkelanjutan. Pembangunan tidak hanya menghasilkan manfaat melainkan juga membawa resiko. Pada dasarnya pelaksanaan pembangunan selalu bersifat dilema. Pada umumnya para pelaksana proyek pembangunan lebih melihat manfaat daripada resikonya karena mereka terdesak urgensi sasaran dan tekanan politik. Betapapun, baik manfaat maupun resikonya harus diperhitungkan. Hanya memperhatikan manfaat saja dapat membahayakan lingkungan. Sebaliknya jika hanya memperhatikan resikonya, akan menjadi kendala, sehingga pembangunan tidak akan terlaksanakan  dan mutu hidup tidak akan meningkat. Karena itu keputusan untuk membangun harus diambil. Masalahnya bukanlah membangun atau tidak membangun, melainkan bagaimana membangun agar sekaligus mutu hidup dan mutu lingkungan meningkat secara seimbang inilah yang disebut dengan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.
            Salah satu objek yang dapat dapat kita  kaji dalam kaitannya dengan ekologi pembangunan adalah kawasan Taman Nasional Sembilang ( TNS ) yang berkaitan dengan pembangunan pelabuhan Internasional Tanjung Api – Api. Taman Nasional Sembilang mengingatkan kita tentang pentingnya konservasi kawasan hutan ekosistem pesisir, dengan menunjuk langsung peranan hutan mangrove dalam menyangga kehidupan perairan, temasuk memberi tempat perlindungan untuk para burung migran. Namun sayang, pembangunan pelabuhan Imternasional Tanjung Api – Api dikhawatirkan akan mengganggu sistem alami di Taman Nasional Sembilang, meskipun proyek pembangunan ini hanya memakan sebagian kecil wilayah Taman Nasional Sembilang ( TNS ).

1.2.Rumusan Masalah
            Proyek Pembangunan Pelabuhan Tanjung Api – Api menimbulkan kontroversi. Selain manfaat dari segi ekonomi, juga terdapat masalah ekologinya. Dari keadaan ini timbul permasalahan dalam pelaksanaanya.
1.      Dengan  memperhatikan manfaat pembangunan dan resiko ekologinya, apakah pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan dapat dikembangkan di Sumatera Selatan, khususnya daerah konservasi lahan hutan Mangrove di kawasan pesisir Timur Sumatera Selatan?
2.      Apakah Proyek pembangunan Pelabuhan Tanjung Api – Api membawa manfaaat yang besar dari aspek ekonomi sehingga proyek pembangunan Pelabuhan Tanjung Api – Api  dilaksanakan meskipun telah terlihat bahwa terdapat  resiko ekologi yang mengancam sektor pariwisata?
1.3.Tujuan
            Tujuan dalam penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui sektor pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.
2.      Mengetahui manfaat dan resiko dari sektor pembangunan.

1.4.Metode Penulisan
            Penulis menggunakan metode observasi dan kepustakaan. Dalam metode ini, penulis membaca buku – buku yang berkaitan dengan penulisan makalah ini. Selain itu penulis mengumpulkan informasi dan data – data dari sumber – sumber yang relevan.






BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.1. Landasan Teori
            Dalam mengkaji masalah dalam karya tulis ini, penulis berlandaskan pada beberapa teori yang berkaitan dengan ekologi pembangunan.
  1. Ekologi
“ Ekologi adalah proses interaksi antara organisme dengan lingkungan hidupnya.”
( Soemarwoto, 1997 )
“ Inti permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia, dengan lingkungan hidup ………oleh karena itu permasalahn lingkungan hidup pada hakekatnya adalah permasalahan ekologi.” ( Soemarwoto, 1997 )
  1. Pembangunan
Menurut Otto Soemarwoto ( 1997 ), syarat untuk dapat tercapainya pembangunan berkelanjutan secara fisik yaitu tidak terjadinya kerusakan ekosistem tempat kita hidup.
Menurut Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997  tentang pengelolaan lingkungan hidup, pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup termasuk sumber daya ke dalam proses pembangunan untuk mrnjamin kemampuan,, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.
  1. Ekologi Pembangunan
“ Ekologi pembangunan adalah proses interaksi antara pembangunan dengan ekologinya”. ( Soemarwoto, 1997 )
Otto Soemarwoto ( 1997 ) mengatakan bahwa, manusia baik sebagai subjek maupun objek pembangunan, merupakan bagian ekosistem. Pandangan holistik inilah yang dipakai dalam ekologi pembangunan. 
  1. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Menurut Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1997 Pasal 15,
“ Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup.’’
2.1.2. Kerangka Konsep
Ekologi Pembangunan adalah interaksi antara pembangunan dan lingkungan hidup. Prinsip pembangunan yaitu berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Banyak faktor yang berpengaruh dalam pembangunan. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada kerangka konsep ekologi pembangunan di bawah ini :




 

















2.2. MEGAPROYEK PELABUHAN TANJUNG API – API  DENGAN MANFAAT DAN RESIKO EKOLOGINYA
2.2.1. Taman Nasional Sembilang ( TNS )
            Ekosistem hutan mangrove ( bakau ) saat ini sulit dijumpai di dunia. Burung – Burung migran asal Siberia, Semenanjung Kore, dan Jepang, mulai kebingungan mencari tempat singgah yang kaya akan bahan makanan. Sampai akhirnya burung – burung itu menemukan salah satu kawasan hutan mangrove terluas di dunia. Kawasan tersebut adalah Taman Nasional Sembilang. Taman Nasional Sembilang ( TNS ) terletak di pesisir timur kecamatan Banyuasin II, kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Luas kawasan Taman Nasional Sembilang ( TNS ) adalah 202.896,31 Ha yang terdiri dari 44,4 % hutan mangrove.
Taman Nasional Sembilang terdiri dari kira-kira 87.000 ha hutan mangrove yang masih utuh. Meluas ke arah darat hingga 35 km. Terdapat 17 spesies mangrove (yaitu 43% dari seluruh spesies mangrove yang ada di Indonesia) yang ditemukan, meliputi Sonneratia alba, Avicennia marina (langsung di garis pantai); Rhizophora mucronata, R. apiculata, Bruguiera gymnorhiza, dan Xylocarpus granatum (jauh ke daratan pada tanah dengan salinitas rendah dan padat).
Di Taman Nasional Sembilang terdapat 53 spesies mammalia (Danielsen & Verheught 1990, PBS data) diantaranya spesies berang-berang yang ada di kawasan Indo-Malaya (Lutra lutra), spesies kucing besar (Felis marmorata, Felis viverrina, Felis bengalensis, Felis temminckii, Neofelis nebulosa) dan Harimau Sumatera Panthera tigris sumatrae), juga Musang Air (Cyanogale bennettii). Selain itu terdapat lima primata termasuk Ungko (Hylobates agilis), Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Beruk (M. nemestrina), dan Lutung Kelabu (Presbytis cristata),
Terdapat  213 spesies burung pernah tercatat di kawasan TN Sembilang (data PBS). Spesies burung ini meliputi spesies penetap (resident) yang terancam seperti Pecuk-ular Asia (Anhinga melanogaste), koloni terakhir dari Undan (Pelecanus philippensis) di region Indo-Malaya, Bangau Storm (Ciconia stormi), lebih dari 1.000 ekor Bangau Bluwok (Mycteria cinerea), lebih dari 300 ekor Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus), Cangak Sumatera (Ardea sumatrana), Rangkong Badak (Buceros rhinoceros), Rangkong Helm (Rhinoplax vigil), Rangkong Hitam (Antrhacoceros malayanus), serta lebih dari 25 spesies burung air migran, termasuk 10.000-13.000 Trinil-lumpur Asia (Limnodromus semipalmatus), 28 ekor Trinil Nordmann (Tringa guttifer), lebih dari 2.600 Gajahan Timur (Numenius madagascariensis), dan beberapa ribu individu spesies dara laut (Sternidae). Dataran lumpur Banyuasin juga merupakan tempat mencari makan bagi ratusan Bangau Bluwok, Bangau Tongtong, dan Ibis-Cucuk Besi (Threskiornis melanocephalus), dan juga lebih dari 2.000 spesies Kuntul (Silvius, 1986).
Dalam kawasan TN Sembilang tercatat ditemukan Buaya Muara (Crocodylus porosus) dan spesies Buaya Sinyulong (Tomistoma schlegelii) pernah tercatat ditemukan di rawa-rawa air tawar di belakang hutan mangrove. Kawasan ini juga merupakan habitat bagi berbagai spesies ular seperti Ular Cincin Mas (Boiga dendrophila), Ular Sawah (Phyton sp.) dan species kura-kura air tawar. 
Terdapat 142 spesies ikan dari 43 familia (Yunus, 1980), 38 spesies kepiting (IPB, 1975) dan sedikitnya 13 spesies udang dari 9 familia (Eskapindo Matra, 1987). Beberapa spesies ikan yang bernilai ekonomi antara lain Ikan Sembilang (Plotusus canius), Gulamah (Johnius sp.), Layur (Trichiurus sp.), Manyung (Arius maculatus), Selar (Caranx sp.), Belanak (Mugil sp.), Teri (Stolephorus sp.), Tenggiri (Scomberomorus sp.) dan Petek (Leiognathus sp.).
            Pemandangan di Sepanjang pesisir pantai menakjubkan setiap orang yang melihat. Ribuan burung – burung  dapat disaksikan di Taman Nasional Sembilang yang mencapai puncaknya pada bulan Oktober. Atraksi burung migran ini menarik untuk diamati karena dapat mendengar secara langsung suara gemuruh burung-burung tersebut terbang bersamaan dan menutupi suara debur ombak Selat Bangka. Belasan elang laut, raja pemangsa perairan, melayang-layang mengintai mangsa. Kehadiran elang-elang berbulu coklat dan kepala putih itu semakin menguatkan aroma kehidupan liar di kawasan Taman Nasional Sembilang. Deretan vegetasi nipah, Nibung, dan api-api, menjadi sarang kera ekor panjang. Satu pohon bisa dihuni oleh puluhan kera. Taman Nasional Sembilang menyimpan pesona alam yang alami untuk  berekreasi. 
2.2.2. Proyek pembangunan pelabuhan Tanjung Api – Api
Terlepas dari keindahan Taman Nasional Sembilang, masalah yang dapat mengancam kelangsungan ekosistem di Taman Nasional Sembilang dengan dijalankannya proyek pemerintah yang menkonservasi sebagian kawasan Taman Nasional Sembilang ( TNS ) .Di balik proyek pembangunan tersebut, ada manfaat dan juga resiko ekologinya.
Selama ini Sumatera Selatan hanya mengandalkan pelabuhan Boom Baru sebagai terminal pelabuhan laut. Namun saat ini pelabuhan Boom Baru tidak dimungkinkan lagi untuk dimasuki oleh kapal-kapal besar, apalagi dengan muatan tonase tinggi. Dengan situasi demikian, cukup masuk akal jika Sumatera Selatan harus mengembangkan pelabuhan samudra alternatif di luar pelabuhan laut Boom Baru yang ada saat ini.Hingga akhirnya pemerintah memilih peisisir Sumatera Selatan menjadi alternatif.
            Menurut Sumber terkait, Perencanaan pembangunan pelabuhan samudra Tanjung Api-Api, sesungguhnya telah disusun cukup lama, yaitu sejak tahun 1989 atas kerjasama Pemerintah Indonesia (Departemen Pekerjaan Umum) dan Commission of The European Communities. Dalam perencanaan itu, disebutkan bahwa luas kawasan lahan yang akan digunakan dalam projek ini seluas 97.196,825 meter persegi, yang akan dibagi dalam 3 bagian. 13 ribu hektar untuk sub kawasanpelabuhan, 9.324,35 hektar untuk kawasan penunjang dan utilitas, dan 4.000 hektar untuk kawasan penunjang.
Di dalam pelaksanaannya, yang kemudian menjadi persoalan bagi ekologi disekitarnya adalah posisi projek yang sangat berdekatan dengan kawasan Taman Nasional Sembilang ( TNS) (kisaran jarak hanya ±5 Km). Padahal kawasan yang berdasarkan SK Menhut No. 85 Tahun 2003, yang telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi tersebut, banyak menyimpan kekayaan biodiversity ( keanekaragaman hayati ). Para pemerhati lingkungan mengkhawatirkan, keberadaan pelabuhan Tanjung Api – Api  di sekitar wilayah konservasi itu, akan berpotensi dalam mempengaruhi ekosistem alami Taman Nasional Sembilang, termasuk terhadap ekosistem Hutan Bakau dan Nipah. Karena Pembangunan jalur kereta api menuju Pelabuhan Tanjung Api-api dipastikan akan menembus hutan bakau di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, sepanjang 24 kilometer.
Sebagai gambaran umum, di semenanjung Banyuasin ( termasuk sekitar kawasan pelabuhan Tanjung Api-Api ), banyak terdapat dataran lumpur yang terbentuk secara alami akibat pengaruh dari sedimentasi lumpur yang terbawa arus sungai yang ditangkap oleh akar-akar pohon bakau. Dataran lumpur ini memiliki fungsi ekologis dan merupakan bagian dari Taman Nasional Sembilang. Menurut Komite Nasional Pengelolaan Ekosistem Lahan Basah (2004),  kawasan yang kelihatannya seperti tandus ini sebetulnya sangat subur karena banyak menerima suplai nutrient dan dihuni oleh berbagai jenis organisme bentik. Ketika air surut, kawasan ini menjadi surga makan bagi burung air, sedangkan di saat pasang akan dipenuhi oleh berbagai jenis ikan yang menguntungkan bagi para nelayan. Dalam dokumen tersebut juga dinyatakan, bahwa Semenanjung Banyuasin adalah salah satu daerah yang memiliki ekosistem dataran lumpur yang sangat luas. Dataran lumpur di wilayah ini dapat menjorok sejauh ke arah laut lebih dari 1,5 km dari garis pantai, dengan kondisi dinamis yang dipengaruhi oleh pasang surut dan sedimentasi yang terjadi. Setiap tahunnya jutaan burung migran memanfaatkan kawasan ini untuk beristirahat dalam perjalanan migrasinya.
2.2.3. Konservasi Kawasan Hutan Lindung Mangrove
Mangrove atau hutan bakau menurut Kepres No. 32 Tahun 1990 adalah kawasan pesisir laut yang merupakan habitat alami hutan bakau, yang berfungsi memberi perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan.
Menurut informasi, telah direncanakan, bahwa pembangunan pelabuhan TAA, akan mengkonservasi kawasan lindung mangrove seluas 5.960,23 hektar.
Ditinjau dari aspek sosial, ekonomi dan ekologi, hutan mangrove merupakan sumberdaya alam daerah tropika yang mempunyai manfaat ganda dengan pengaruh yang sangat luas. Besarnya peranan hutan atau ekosistem mangrove bagi kehidupan, dapat diketahui dari banyaknya jenis hewan, baik yang hidup di dalam perairan, di atas lahan maupun tajuk-tajuk pohon mangrove.
Menurut para ahli bahwa hutan mangrove merupakan suatu ekosistem yang unik, yang memiliki karakteristik dengan fungsi bermacam-macam, yaitu fungsi fisik,biologi dan ekonomi atau produksi. Fungsi fisik: Secara fisik hutan atau ekositem mangrove dapat menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dan tebing sungai, mencegah terjadinya erosi laut, serta sebagai perangkap zat-zat pencemar dan limbah. Fungsi Biologi: Secara biologi hutan atau ekosistem mangrove mempunyai fungsi sebagai daerah asuhan pasca larva dan yuwana jenis-jenis tertentu dari ikan, udang dan bangsa krustasea lainnya, serta menjadi tempat kehidupan jenis-jenis kerang dan kepiting, tempat bersarang burung-burung dan menjadi habitat alami bagi berbagai jenis biota. Fungsi ekonomi atau fungsi produksi: Ekosistem dan hutan mangrove juga sejak lama telah dimanfaatkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Saeger et al. (1983) mencatat 67 macam produk yang dapat dihasilkan oleh ekosistem hutan mangrove dan sebagian besar telah dimanfaatkan oleh masyarakat.
2.2.4. Analisis mengenai Dampak Lingkungan Hidup ( AMDAL )
Pembangunan yang memungkinkan timbulnya dampak penting terhadap lingkungan hidup harus membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup ( AMDAL ). AMDAL diperlukan untuk menjaga kualitas lingkungan hidup agar tidak rusak karena dengan adanaya proyek pembangunan. Undang – Undang dan Pemerintah menghendaki agar semua proyek pembangunan harus melampirkan sertifikat AMDAL.
Peranan AMDAL sebagai studi kelayakan. Hasil dari Analisis mengenai Dampak Lingkungan dapat menjadi  acuan pemerintah dalam mengarahkan dan mengawasi pembangunan. Agar dapat menghindari akibat sampingan yang merugikan dan tidak diiinginkan terjadinya dampak negative dari  proyek pembangunan pada lingkungan hidup dan sumber daya alam, juga untuk menghindari terjadinya perselisihan antar proyek pembangunan lainnya. Dengan demikian AMDAL dapat dijadikan tolak ukur dalam pengambil keputusan apakah proyek boleh dilaksanakan atau dibatalkan. Jadi pemerintah mengambil keputusan berdasarkan AMDAL.
Laporan AMDAL merupakan dokumen yang penting sebagai bahan atau sumber informasi yang cukup detail menenai keadaan lingkungan pada waktu penelitian, proyek dan gambaran keadaan lingkungan di masa yang akan datang.
 AMDAL  Projek Pelabuhan Tanjung Api – Api ( TAA )
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999, Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, di dalam ketentuan umum peraturan itu dijelaskan, bahwa untuk merencanakan suatu usaha dan/atau kegiatan, diperlukan telaah yang cermat dan mendalam tentang berbagai dampak besar dan penting yang diakibatkan dari usaha dan/atau kegiatan tersebut. Hal ini dimaksudkan, agar secara jelas dapat dipahami berbagai konsekuansi yang dimungkinkan akibat dari penjalanan usaha/kegiatan itu.
Sementara dalam kegiatan projek pelabuhan Tanjung Api - Api, di dalam dokumen AMDAL, sangat minim sekali informasi terkait dengan tinjauan biodiversity kawasan Taman Nasional Sembilang, serta berbagai konsekuensi yang dimungkinkan mempengaruhi kehidupan ekosistem di dalamnya. Keberadaan hutan mangrove pun tidak dimasukkan di dalam analisis dokumen AMDAL TAA. Padahal kawasan mangrove yang terletak di sepanjang Sungai Banyuasin sampai ke pantai timur itu, merupakan kawasan mangrove terpanjang di Asia (kurang lebih 30 km)
            Dari hasil observasi beberapa data dan informasi, proyek pembangunan Pelabuhan Tanjug Api – Api membawa keuntungan ditinjau dari aspek ekonomi bagi Sumatera Selatan. Karena dapat menjadi “ Tambang Emas” bagi Sumatera Selatan jika nantinya pelabuhan ini mulai berfungsi. Selain itu juga membawa keuntungan bagi kesejahteraan masyarakat di sekitar Proyek pembangunan baik saat pembangunan maupun pasca pembangunan. Selama proyek pembangunan dijalankan, telah terlihat perubahan tingkat kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut. Tidak sedikit warga yang bekerja sebagai supir truk proyek pembangunan jalan dan pelabuhan TAA, Sebagian lagi membuka warung di jalan – jalan dekat lokasi pembangunan. Bahkan warga yang dulunya berprofesi sebagai nelayan, beralih menjadi pedagang. Dari kenyataan tersebut, dapat dilihat bagaimana perkembangan daerah tersebut kelak setelah pelabuhan berfungsi. Ekonomi masyarakat di  sekitar daerah tersebut akan meningkat dan lebih sejahtera. Dan secara tidak langsung akan menambah Pendapatan daerah Sumatera Selatan karena Pelabuhan Tanjung Api – Api merupakan Pelabuhan Laut bertaraf Internasional. Diharapkan dengan adanya Pelabuhan Internasional ini akan dapat membawa nama Sumatera Selatan di mata dunia dengan Pelabuhan TAA – nya sebagai primadona.
            Namun di samping manfaat dari aspek ekonomi terdapat resiko ekologinya. Tergambar bahwa di balik pembangunan Tanjung Api – Api banyak resiko Ekologinya terhadap Taman Nasional Sembilang ( TNS ) yang berada dekat dengan proyek pembangunan pelabuhan tersebut.
Pertama, kapal-kapal ditakutkan akan melewati titik-titik singgah burung migran. Ekosistem yang berubah akan membuat burung migran tak mau singgah. Pohon bakau yang rusak, tidak mampu menahan lumpur dan burung-burung dan hewan lain akan kehilangan makanannya. Itu berarti, akan ada banyak burung migran yang mati karena tidak bisa beristirahat dan memperoleh makanan.
Kedua, Hutan Mangrove akan rusak karena perekonomian sekitar pelabuhan akan hidup. Padahal, tanaman bakau sangat sensitif dengan perubahan ekosistem.
Untuk itu kiranya perlu dievaluasi kembali rencana pembangunan Pelabuhan TAA yang penempatannya berada di dalam kawasan Hutan Lindung Air Telang dan sekitar Taman Nasional Sembilang, dengan memperhatikan asfek ekologi kawasan secara lebih mendalam dan meluas
Namun demikian, kiranya pelaksanaan pelabuhan laut alternatif tersebut, harus pula memperhatikan banyak aspek di dalamnya. Kajian secara komprehensif dan mendalam, terkait dengan dampak yang ditimbulkan dari usaha tersebut, baik secara sosial, ekonomi, dan lingkungan, dengan melibatkan banyak fihak, terutama masyarakat sekitar wilayah projek, merupakan tahapan yang harus dijalankan oleh pemerintah. Dalam hal ini, transparansi, obyektifitas, dan keprofesionalan harus menjadi prasyarat, sehingga hasil dari proses identifikasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat..Ada baiknya pengerjaan projek pelabuhan TAA untuk sementara ini dihentikan terlebih dahulu. Proses legal formal seperti AMDAL harus dikaji ulang , sambil menunggu hasil penyidikan terhadap dugaan KKN yang melibatkan pejabat di lingkungan Pemerintahan Sumatera Selatan terkait dugaan “suap” dalam proses alih fungsi lahan “Hutan Mangrove”, yang dilakukan oleh seorang anggota Komisi IV DPR RI yang saat ini tengah dikembangkan KPK.
Oleh karena itu, konsep Pelabuhan Tanjung Api-Api harus direncanakan dengan matang. Mulai dari jalurnya hingga pengembangan kawasan perekonomiannya. Pembangunan dapat terus dilakukan menyangkut aspek ekonomi yang besar  bagi pemerintah maupun masyarakat namun jalur pengembangan harus di rancang lebih baik agar mutu hidup manusia dan mutu lingkungan hidup berjalan seimbang. Dan tetap pada prinsip pembangunan yaitu pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
  1. Pembangunan dapat di kembangkan di kawasan Tanjung Api – Api. Namun untuk menuju pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan harus ditinjau dari segi ekologi di sekitar kawasan tersebut mengingat di daerah tersebut terdapat objek pariwisata yang menyimpan biodiversity yang ekosistemnya langka dan perlu dilestarikan. Sehingga jalur pengembangan proyek pembangunan Pelabuhan tidak memakan kawasan Taman Nasional yang berakibat pada kerusakan lingkungan.
  2. proyek pembangunan Pelabuhan Tanjug Api – Api membawa keuntungan ditinjau dari aspek ekonomi bagi Sumatera Selatan. Ekonomi masyarakat di  sekitar daerah tersebut akan meningkat dan lebih sejahtera. Dan secara tidak langsung akan menambah Pendapatan daerah Sumatera Selatan karena Pelabuhan Tanjung Api – Api merupakan Pelabuhan Laut bertaraf Internasional. Diharapkan dengan adanya Pelabuhan Internasional ini akan dapat membawa nama Sumatera Selatan di mata dunia dengan Pelabuhan TAA – nya sebagai primadona.
Namun di samping manfaat dari aspek ekonomi juga terdapat resiko ekologinya. Tergambar bahwa di balik pembangunan Tanjung Api – Api banyak resiko Ekologinya terhadap Taman Nasional Sembilang ( TNS ) yang berada dekat dengan proyek pembangunan pelabuhan tersebut.
Oleh karena itu, konsep Pelabuhan Tanjung Api-Api harus direncanakan dengan matang. Mulai dari jalurnya hingga pengembangan kawasan perekonomiannya. Pembangunan dapat terus dilakukan menyangkut aspek ekonomi yang besar  bagi pemerintah maupun masyarakat namun jalur pengembangan harus di rancang lebih baik agar mutu hidup manusia dan mutu lingkungan hidup berjalan seimbang. Dan tetap pada prinsip pembangunan yaitu pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.


3.2. Saran

1.      Bagi Instansi Pemerintah
Pemerintah hendaknya lebih transparan dalam hal legalitas. Sehingga tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Informasi mengenai Dampak Lingkungan Hidup harus melibatkan masyarakat di sekitarnya.

2.      Bagi Masyarakat
Masyarakat sebaiknya lebih tanggap terhadap kondisi lingkungan dan prospek kerja di sekitar Pelabuhan T.A.A guna meningkatkan taraf hidup mereka. Selain itu tetap menjaga keseimbangan alam sehingga mutu hidup dan lingkungan berjalan selaras.

3.      Bagi Pelaksana Proyek Pembangunan Pelabuhan T.A.A      
Bagi pelaksana hendaknya melaksanakan proyek sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar